Jumat, 11 Januari 2013

Tulisan Ke 19 Mata Kuliah Bahasa Indonesia II (Cara BI Jaga Fluktuasi Rupiah)


Cara BI Jaga Fluktuasi Rupiah
Guna menjaga fluktuasi nilai tukar rupiah, Bank Indonesia (BI) telah melakukan beberapa langkah, di antaranya menjaga pembalikan arus modal yang berasal dari penjualan surat utang negara (SUN) oleh asing.

Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengungkapkan, hingga 6 September 2012, kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp234,84 triliun atau 27,96 persen dari total SBN yang mencapai Rp839,9 triliun.

"Kami menyadari kerentanan yang akan ditimbulkan dari besarnya kepemilikan asing pada SBN terhadap stabilitas nilai tukar," kata Darmin dalam jawaban tertulisnya untuk Anggota Dewan Komis XI di Gedung DPR Jakarta, Senin 10 September 2012

Menurutnya langkah yang dilakukan BI adalah memonitor intensif perilaku investor asing, khususnya yang melakukan investasi di pasar SBN.

Selain itu, BI juga akan terus meningkatkan kepemilikan BI atas SBN yang akan digunakan sebagai instrumen moneter. Sejak September 2011 hingga September 2012, kepemilikan SBI oleh BI meningkat dari Rp47,9 triliun menjadi Rp82,4 triliun.

"Dengan terjaganya stabilitas harga SBN dapat mencegah terjadinya pembalikan modal yang lebih besar," ujarnya.

Selain itu, BI juga terus menjaga kepercayaan investor domestik terhadap pasar obligasi domestik. Sebagai contoh, akhir 2005 lalu terjadi kejatuhan harga SBN yang tajam, sehingga mengakibatkan investor domestik khususnya yang berinvestasi pada reksadana berbasis SBN mengalami trauma untuk berinvestasi di pasar obligasi.

"Penguatan basis investor domestik sangat penting untuk pendalaman pasar keuangan dan stabilitas nilai tukar," kata Darmin.

Siang ini rupiah diperdagangkan pada Rp9.570 per dolar AS, dengan rentang perdagangan Rp9.575 - Rp9.580. Rupiah terus melemah sepanjang tahun ini dari posisi awal tahun Rp9.090 per dolar AS. Bahkan dibandingkan 9 September 2011, rupiah telah turun tajam hingga Rp1.000 yang saat itu dipasarkan pada Rp8.570.

Sumber:
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/350188-cara-bi-jaga-fluktuasi-rupiah

Tulisan Ke 18 Mata Kuliah Bahasa Indonesia II (Ini Penyebab Rupiah Melemah)


Ini Penyebab Rupiah Melemah

Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution, menyatakan, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam sepekan terakhir disebabkan aksi sejumlah eksportir yang menahan dolar di bank dalam negeri dan tidak dikonversi dalam rupiah.

"Walaupun pembayaran telah masuk, tapi eksportir valas tidak menukar ke rupiah, maka tidak menambah suplai valas di pasar," kata Darmin di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat 11 Januari 2013.

Untuk menjaga fluktuasi nilai tukar, Bank Indonesia akan menempuh beberapa kebijakan, salah satunya Operasi Pasar Terbuka (OPT) yang akan dilakukan di pasar moneter.

Sayangnya, ia enggan menjelaskan bentuk kebijakan yang ditempuh dalam waktu dekat. "BI sudah merumuskan langkah yang akan ditempuh dalam waktu dekat. Ini kebijakan soal pengendalian pasar dan bukan dalam bentuk aturan baru," katanya.

Sekadar informasi, berdasarkan data kurs tengah Bank Indonesia, Jumat siang, 11 Januari 2013, rupiah berada di level Rp9.740 per dolar AS dengan jumlah cadangan devisa mencapai US$112,78 miliar.

Sumber:
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/381442-ini-penyebab-rupiah-melemah

Tulisan ke 17 Mata Kuliah Bahasa Indonesia II (Ironi Dana Tak Bertuan di Jamsostek)


Ironi Dana Tak Bertuan di Jamsostek


Dua tahun sejak diumumkan pada 2010 lalu, baru sekitar Rp 500 miliar dari Rp 4,9 triliun dana tak bertuan di Jamsostek yang berhasil disalurkan. Dana tak bertuan adalah istilah bagi sejumlah dana peserta Jamsostek untuk jaminan hari tua (JHT) yang belum dicairkan karena ketidakjelasan siapa dan di mana pemiliknya. Dana tak bertuan itu merupakan hak sekitar 7 juta peserta Jamsostek yang sudah non aktif. Dari jumlah itu, baru beberapa ratus ribu peserta yang mencairkan dana JHT-nya. Masih ada 6 juta lebih peserta yang mungkin saat ini sebagian besar di antaranya harus menjalani hari tua dalam kondisi sangat memprihatinkan. 

Meski besarnya dana tak bertuan di Jamsostek tersebut dinilai masih dalam batas kewajaran yang disepakati oleh lembaga penyelenggara jaminan sosial internasional yakni 5 persen dari total sekitar Rp 106 triliun dana yang dikelola Jamsostek, namun ada dana menganggur dalam jumlah yang tidak sedikit adalah sebuah ironi di tengah maraknya problematika yang dihadapi oleh banyak pekerja kita terutama di masa tuanya. 

Dampak Kurangnya Sosialisasi

Besarnya dana tak bertuan yang belum dicairkan peserta non aktif Jamsostek disebabkan oleh banyak factor mulai data yang tidak lengkap, komunikasi yang terputus hingga ketidaktauan peserta sendiri jika dirinya adalah peserta Jamsostek. Dari sejumlah factor ini, factor ketiga nampaknya adalah factor yang paling utama. Jangankan beberapa puluh tahun lalu saat-saat pertama program Jamsostek ada, sampai saat inipun masih banyak pekerja terutama pekerja di sektor informal yang tidak paham apa itu Jamsostek dan bahwa perusahaan wajib mendaftarkannya sebagai peserta. Terbukti, hingga September 2011 atau hampir 34 tahun sejak PT Jamsostek berdiri, peserta aktif Jamsostek baru mencapai 10,3 juta orang secara nasional.

Pun ketika kemudian kepesertaan Jamsostek semakin mudah, bisa dilakukan atas inisiatif sendiri tanpa harus didaftarkan perusahaan dan memungkinkan pekerja informal juga bisa menjadi peserta, tetap saja penambahan jumlah peserta Jamsostek tidak cukup signifikan. Tentu ini sangat disayangkan karena dalam banyak kondisi, kehadiran Jamsostek seringkali menjadi malaikat penolong bagi pekerja. Seperti di saat sakit, saat di-PHK atau mengalami kecelakaan kerja hingga memiliki sedikit bekal untuk hari tua.

Sosialisasi yang kurang telah mengakibatkan banyak pekerja tidak tahu akan haknya untuk menjadi peserta Jamsostek. Belum adanya sanksi yang tegas dari pemerintah membuat banyak perusahaan yang dengan sengaja tidak mendaftarkan pekerjanya sehingga banyak fasilitas dan kemudahan tidak bisa dimanfaatkan oleh pekerja. Dan yang tak kalah ironis, kurangnya sosialisasi juga telah mengakibatkan banyak peserta pada akhirnya tidak bisa memanfaat dana JHT-nya padahal mungkin saja sebagian besar dari mereka sangat memerlukannya saat ini.

Pelajaran Berharga bagi Jamsostek

Kasus dana tak bertuan bisa menjadi masukan sangat berharga bagi Jamsotek yang tak lama lagi akan mengemban amanah lebih besar seiring dengan disahkannya UU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) pada 28 Oktober 2011 lalu. Dengan menjadi BPJS II atau BPJS Ketenagakerjaan yang bertugas menyelenggarakan jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua, dan jaminan pensiun paling lambat bulan Juli 2015, Jamsostek akan mengurusi peserta yang jauh lebih banyak.

Salah satu evaluasi yang dilakukan Jamsostek terkait kasus dana tak bertuan karena data yang kurang lengkap adalah mulai tahun 2011 dalam formulir Jamsostek telah dicantumkan alamat dan keluarga yang bisa dihubungi. Ke depan, Jamsostek akan membuatkan registrasi beserta alamat peserta dan keluarga atau ahli waris untuk mengantisipasi agar Jamsostek tidak kehilangan kontak saat dibutuhkan. Catatan lain yang juga harus diperhatikan oleh Jamsostek adalah transparansi keuangan yang lebih terbuka pada public. Sebagaimana diketahui, masalah dana tak bertuan baru diumumkan pada 2010 lalu. Andai saja Jamsostek mengumumkannya jauh sebelum itu, sangat mungkin akan lebih banyak peserta non aktif yang mencairkan dana JHT-nya. Transparansi juga sangat diharapkan dalam proses pencairan dana pada peserta agar tidak muncul kecurigaan dana diselewengkan pada yang bukan haknya.

Pertanyaannya kemudian, sampai kapan batas waktu yang ditetapkan untuk menyalurkan dana tak bertuan setelah segenap upaya dilakukan agar pencairan bisa optimal? Idealnya, masalah dana tak bertuan bisa tuntas sebelum PT Jamsostek bertransformasi menjadi BPJS II yakni 1 Januari 2014. Ini artinya tersisa waktu tidak sampai dua tahun bagi Jamsostek untuk menyalurkan dana tak bertuan yang masih tersisa sekitar Rp 4,4 triliun. Jika dalam waktu 2 tahun sebelumnya dana yang dicairkan hanya sekitar sepersepuluhnya saja, sangat mungkin dalam waktu dua tahun ke depan, dana tak bertuan masih akan tersisa. Berapapun jumlahnya, Jamsostek berkewajiban mengumumkan ke public secara terbuka. Dan kita berharap dana tersebut nantinya bisa dimanfaatkan secara benar terutama untuk kepentingan masyarakat kecil. Salah satunya bisa menjadi dana tambahan bagi BPJS untuk menyelenggarakan jaminan social yang lebih baik dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia di mana para pemilik dana tak bertuan yang belum mencairkan dananya adalah satu di antaranya.

Sumber:
http://www.ririnhandayani.blogspot.com/2013/01/ironi-dana-tak-bertuan-di-jamsostek.html

Tulisan ke 16 Mata Kuliah Bahasa Indonesia II (Serapan Belanja Modal Pemerintah 2012 Menurun)


Serapan Belanja Modal Pemerintah 2012 Menurun

Belanja modal Pemerintah pusat pada tahun 2012 hanya mencapai 79,6 persen atau sebesar Rp140 triliun dari target yang ditetapkan dalam APBN-P 2012 sebesar Rp176,1 triliun. Meskipun presentase menurun, secara nominal penyerapannya bertambah dari tahun lalu yang sebesar Rp117,9 triliun atau 83,6 persen. 

Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara Kementerian Keuangan, Agus Suprijanto mengungkapkan, belanja modal pemerintah terbesar masih digunakan untuk pembangunan infrastruktur penunjang, seperti jalan, jembatan, dan irigasi yaitu sebanyak Rp70,3 triliun. 

Sementara itu pembangunan gedung dan bangunan pada 2012, pemerintah mengeluarkan anggaran sebesar Rp19, 5 triliun. Peralatan dan mesin sebesar Rp44,9 triliun, pembelian tanah sebesar Rp3,6 triliun, dan belanja lainnya sebesar Rp4,7 triliun. 

Agus memaparkan ada beberapa kendala yang masih menjadi penghambat tidak maksimalnya belanja modal pemerintah pusat tersebut, antara lain, tidak jadi dilaksanakannya program dan kegiatan yang terkait dengan pengurangan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam APBN-P.

"Kemudian adanya kebijakan pembatasan pembangunan gedung kantor yang tidak terkait dengan pelayanan umum," ujar Agus di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin 7 Januari 2013. 

Dirinya memaparkan, ada 10 kementerian/lembaga yang memiliki belanja modal terbesar pada 2012, yaitu: 

1. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Sebesar Rp 60,9 triliun (87 persen)
2. Kementerian Pertahanan sebesar Rp 27 triliun (67,7 persen)
3. Kementerian Perhubungan sebesar Rp Rp 26,2 triliun (85 persen)
4. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebesar RP 11,6 triliun (67,4 persen)
5. Kementerian ESDM sebesar Rp 10,3 triliun (58,4 persen)
6.Kementerian Kesehatan sebesar Rp 7,4 triliun (85,4 persen)
7. Polri sebesar Rp 6,6 triliun (67,1 persen)
8. Kementerian Pemuda dan Olahraga sebesar Rp 2,5 triliun (44,4 persen)
9. Kementerian Agama sebesar Rp 3,3 triliun (79,1 persen)
10. Kementerian Dalam Negeri sebesar Rp 2,3 triliun (96,4 persen).

Sumber:
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/380231-serapan-belanja-modal-pemerintah-2012-menurun

Tulisan Ke 15 Mata Kuliah Bahasa Indonesia II (Manajemen Keuangan yang Ideal bagi Mahasiswa)


Manajemen Keuangan yang Ideal bagi Mahasiswa

“Bro, aku pinjam dulu dong uang kamu buat makan. Uangku belum dikirim”, 

begitulah sekiranya ucapan polos mahasiswa yang uangnya habis, sedang kirimannya belum tiba. 
Banyaknya kebutuhan mahasiswa, seringkali membuat keuangan mereka kedodoran. Padahal mungkin jumlah kiriman dari orang tua per bulannya lebih dari cukup bagi orang yang pandai mengatur keuangannya.

Kebutuhan mahasiswa memang sangat kompleks. Biasanya uangnya itu habis karena shopping atau jajan. Selain itu, bahan bakar kendaraan bermotor juga bisa menguras jumlah rekening di ATM. Dan sisanya biasanya karena hura-hura. Pada dasarnya, besar kecilnya kiriman dari orang tua, bukan menjadi faktor penyebab mengapa seringkali uang kita itu habis sebelum tiba kiriman lagi. Entah itu dikirim tiap bulannya, atau pun tiap minggu dikirim. Keduanya sama, karena faktor pengelolaan keuangan yang buruk. Terkadang mahasiswa lebih memprioritaskan kebutuhan sekunder atau pun tersier daripada kebutuhan primer. Padahal dalam teori ekonomi, sangat jelas dikatakan bahwa manajemen keuangan yang ideal itu apabila kebutuhan primer dipenuhi terlebih dahulu dan sisanya baru kebutuhan sekunder dan tersier. Nah, proses ini yang seringkali terbalik dilakukan oleh mahasiswa.

Mengidentifikasi antara ketiga kebutuhan ini yang agak susah membedakannya. Kebutuhan orang mampu dengan mereka kelas menengah atau pun kelas bawah jelas sangat berbeda. Butuh kecermatan yang mendalam. Bagi orang mampu, motor atau pun mobil merupakan kebutuhan primer, sedangkan mereka yang kelas menengah dan bawah kebutuhan itu merupakan kebutuhan tersier atau pun sekunder. Inilah yang menjadi permasalahannya. Karena berada dilingkungan mahasiswa kelas atas, mahasiswa kelas menengah atau pun bawah selalu memaksakan kehendaknya untuk mendahulukan kebutuhan sekunder dan tersier daripada kebutuhan primer. Meskipun kiriman mereka pas-pasan, mereka tidak mau dibilang ketinggalan zaman kalau hanya punya sepeda sehingga memaksa mereka untuk mengkredit motor.

Atau misalnya juga, karena sering bergaul dengan mahasiswa yang mampu (kaya) dan bahkan telah masuk dalam geng mereka, tempat makannya pun berubah yang seharusnya mungkin sebaiknya makan di burjo maka sekarang harus makan di restoran yang mewah. Jelas harganya sangat mahal dan itu tidak menjangkau kiriman mereka yang cuma berapa ratus ribu perbulannya. Akhrinya, pilihan terakhir adalah meminjam sama teman karena uangnya sudah habis, padahal baru tengah bulan. Beruntung kalau bisa dibayar utang-utangnya itu. Tetapi, untuk kasus yang serupa ini, susah dibayarnya. Jalan terakhir untuk menghindari dari tagihan utang itu adalah pindah kos. Sungguh kasihan.

Dampaknya selain ngutang adalah perkuliahan terganggu karena uang kuliah belum dibayar. Ternyata disamping ngutang, uang kiriman orang tua yang untuk bayar SPP di kampus, juga di pakainya untuk sebagian bayar utang dan sisanya kembali ikut gabung dengan gengnya itu. Kalau sudah seperti ini, tinggal tunggu gagalnya.
Sebenarnya, belum terlambat kalau sudah terlanjur seperti itu jika ingin mau berubah. Di sini bukan berarti kamu harus menjauhi teman-temanmu yang pada kaya-kaya itu. Bersahabat bolehlah bersahabat, tetapi sebelumnya kita harus tahu dulu, siapa diri kita? Ketika sudah tahu diri kita yang sebenarnya, maka silahkan bersahabat dan jalan bersama mereka. Dalam hal ini, identitas diri sangat berarti. Posisi kamu itu dimana, apakah kamu adalah mahasiswa kelas atas, menengah, atau bawah? Setelah kamu mengetahui posisi kamu, maka kemudian telitilah dengan manejemen keuanganmu.

Kalau kamu adalah termasuk mahasiswa kelas atas, bukan berarti uang yang kamu miliki seenaknya untuk kamu gunakan. Berfoyah-foyah kesana kemari bersama teman-teman. Karena mungkin merasa diri punya uang banyak, maka semua teman-temanmu sering kamu traktir. Jelas ini juga tidak benar. Bila seperti ini, kamu sama saja dengan mereka yang sering-sering ngutang. Jelas ini tidak kamu inginkan. Nah, langkah yang terbaik bagi kamu adalah selalu menyisihkan sebagian dari uang kiriman kamu. Tidak usah terlalu banyak, tetapi keteraturan dan kesungguhan kamu untuk menyisihkan. Bila perlu, kamu buat rekening baru yang khusus untuk tabungan kamu tanpa sepengetahuan orang lain, termasuk orang tuamu. Dan yang terpenting adalah berjanjilah kepada dirimu untuk bersungguh-sungguh menabung dan tidak berfoyah-foyah.

Kalau kamu adalah termasuk mahasiswa kelas menengah, sebaiknya mengklarifikasi lebih dahulu kebutuhan primer dan sekunder bagi kamu. Jangan memikirkan dulu kebutuhan tersier. Kebutuhan primer di sini adalah kebutuhan yang selalu kamu pakai atau gunakan. Dalam hal ini yaitu, sandang, pangan dan papan. Sedangkan kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang terkadang kamu gunakan atau pakai. Biasanya frekuensi penggunaannya itu jarang, tidak dilakukan setiap hari. Hal ini lebih kamu yang mengetahuinya daripada saya. Oleh karena itu, cermat-cermatlah dalam memilih kebutuhan untuk yang didahulukan. Jangan lupa juga, jika ada sisanya, tabunglah. Itu akan sangat berguna bagi kamu.

Terakhir, kalau kamu adalah termasuk mahasiswa kelas bawah, sudah seharusnya bagi kamu untuk lebih berhemat dan benar teliti dalam pengeluaran. Kamu tidak usah bergantung pada kiriman yang ada, tetapi kamu harus mencoba untuk mandiri. Dalam hal ini, cobalah kamu mencari kerja sampingan, shift malam. Tetapi ingat, tidak boleh menganggu perkuliahanmu. Bagaimanapun juga, kuliah harus lebih diutamakan. Jika kamu kreatif, kamu bisa bekerja sambil belajar. Belajar itu tidak harus duduk di depan meja atau menyendiri di dalam kamar. Tetapi, dimana saja sebenarnya bisa kamu belajar. Kamu juga harus lebih disipin dengan waktu yang ada. Jangan biarkan waktumu itu biar sejam terbuang sia-sia. Waktu istrahat, gunakanlah sebaik mungkin, dan sama halnya dengan waktu-waktu yang lain.

Mencoba sesuatu yang baru itu butuh proses. Dan sama dengan cara yang ditawarkan tadi. Bagi kamu yang sudah terbiasa mungkin bukan menjadi masalah, tapi bagi mereka yang belum sama sekali mencoba, ingatlah sesuatu itu butuh proses dan akan ada hikmahnya. Teruslah berdoa, barengin bekerja dengan berdoa. Dan yang terpenting itu adalah niat. Mulailah berniat dari sekarang. Semoa sukses. Amin.

Sumber:
http://mar12muhammad.blogspot.com/2013/01/manajemen-keuangan-yang-ideal-bagi.html

Tulisan ke 14 Mata Kuliah Bahasa Indonesia (Prospek dan Tantangan Bisnis Ritel Makanan Tradisional)


Prospek dan Tantangan Bisnis Ritel Makanan Tradisional

Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan kuliner sangat luar biasa baik ragam maupun cita rasanya. Hampir semua daerah di Indonesia memiliki makanan khasnya masing-masing. Dari yang tradisional hingga berbagai varian baru hasil eksperimen dan modifikasi. Beberapa daerah bahkan memiliki lebih dari satu makanan khas. Kota Jember misalnya, kota di mana penulis tinggal.
.
Dari bahan baku singkong, selain diolah menjadi tape, muncul varian lain seperti Suwar-suwir (dodol tape), proll tape dan juga brownis tape. Rasanyapun sangat variatif. Suwar-suwir bahkan telah menjadi salah satu icon Kota Jember. Selain dikenal sebagai Kota Santri dan Kota Seribu Gumuk (bukit), Jember juga dikenal sebagai Kota Suwar-suwir. 

Bisa dibayangkan jika kekayaan kuliner tradisional khususnya oleh-oleh di seluruh penjuru Tanah Air diinventarisasi dengan baik. Bisa jadi, kita adalah negara dengan kekayaan makanan dan cemilan tradisional terbanyak di dunia. Dilihat dari perspektif bisnis, kekayaan ini bisa menjadi ‘tambang’ bisnis yang sangat potensial. Ia juga memiliki sejumlah nilai strategis lain dilihat dari aspek pemberdayaan ekonomi rakyat, pengurangan angka kemiskinan dan pengangguran, pemanfaatan sumber daya alam hingga pelestarian budaya bangsa. Lebih dari itu, industri makanan khas daerah khususnya oleh-oleh, memiliki potensi besar untuk menembus pasar internasional. Jika ini terwujud, akan lebih banyak manfaat yang bisa diperoleh dari bisnis ini.

Dilihat dari besarnya potensi dan nilai strategis yang dimilikinya, bisnis ritel makanan berbasis local knowledge ini seharusnya menjadi perhatian semua pihak khususnya pemerintah daerah dan pihak terkait. Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Pertama, Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan budaya yang salah satunya berbentuk makanan khas daerah termasuk oleh-oleh. Kekayaan ini didukung oleh sumber daya alam berupa bahan baku pangan yang sangat melimpah. Sangat disayangkan jika dua anugerah yang tidak semua negara di dunia memilikinya ini tidak dimanfaatkan secara optimal. 

Kedua, besarnya permintaan pasar. Budaya yang berkembang di masyarakat Indonesia telah menempatkan oleh-oleh sebagai sebuah kebutuhan. Baik mereka yang sedang bepergian ke suatu daerah atau mereka yang berada di luar daerahnya. Kerinduan pada daerah asal ikut menciptakan permintaan. Promosi pariwisata yang gencar hingga ke manca negara juga berpeluang mengakselerasi permintaan pasar.

Ketiga, pelaku utama bisnis oleh-oleh umumnya adalah industri kecil menengah (IKM) dan home industry yang biasanya digerakkan oleh tenaga kerja informal. Ini merupakan salah bentuk konkrit sektor riil berbasis masyarakat yang menjadi inti dari pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Jika lebih dioptimalkan, bisnis ini bisa menjadi andalan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat termasuk taraf hidup para petani sebagai penyuplai bahan baku termasuk juga sektor lain yang mendukung kelangsungan sektor ini seperti jasa transportasi.

Dan yang keempat, optimalisasi industri makanan khas daerah bisa menjadi sarana promosi sekaligus pelestarian budaya bangsa. Secara umum, industri berbasis local knowledge memiliki sejumlah keistimewaan. Selain sebagai sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal atau setempat, industri berbasis local knowledge juga merupakan representasi dari budaya setempat sehingga bisa menjadi sarana pelestarian budaya mengingat sejumlah budaya di Indonesia termasuk kekayaan kulinernya mulai terancam kepunahan. Bisnis ritel makanan tradisional juga bisa mendongkrak promosi wisata daerah yang bersangkuta tidak hanya ke seluruh penjuru Tanah Air namun bisa juga ke seantero dunia.

Sumber:
http://ririnhandayani.blogspot.com/2012/11/prospek-dan-tantangan-bisnis-ritel.html

Tulisan Ke 13 Mata Kuliah Bahasa Indonesia II (SBY Minta DPR & Kemenkeu Tak Mudah Bintangi Anggaran)


SBY Minta DPR & Kemenkeu Tak Mudah Bintangi Anggaran
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono minta semua pihak mengawal aliran APBN yang jumlahnya tembus Rp1.683 triliun agar penggunaannya tepat dan benar. Pihak yang punya otoritas, juga harus bisa memperlancar aliran anggaran ini ke bawah. 

Sebab,  keterlambatan aliran dan penggunaan APBN bisa membuat Indonesia kehilangan momentum. "Sasaran yang telah dirumuskan pada tahun berjalan itu tidak tercapai," kata SBY sesaat sebelum bertolak ke Inggris di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa 30 Oktober 2012. 

Untuk memperlancar aliran anggaran itu, SBY pun minta DPR dan Kementerian Keuangan tidak gampang membintangi anggaran yang telah disetujui. "Kita mendengar istilah dibintangi, di DPR maupun juga di Kemkeu. Mari, semua kementerian, lembaga, yang benar-benar siap untuk mengalirkan anggaran, tidak perlu membintangi. Dengan demikian, anggaran dapat mengalir dan sampai kepada sasaran yang hendak kita capai," ujarnya.

Tapi di sisi lain, SBY mengingatkan jajarannya tetap berhati-hati dan tunduk pada peraturan yang berlaku dalam menjalankan program dengan anggaran APBN itu. Sebab, sudah banyak pejabat eksekutif dan legislatif yang terjerat hukum karena penyelewengan anggaran.

"Dengan perasaan yang tidak gembira, ada ratusan pejabat negara, pejabat pemerintah. Termasuk anggota DPR, DPD, DPRD, yang harus menjalani proses hukum karena penyimpangan APBN dan APBD ini. Tentu ini tidak kita kehendaki," katanya.

Pemerintah ingin semua pengguna dan pelaksana anggaran selamat dari proses hukum dan pelaksanaan program bermanfaat bagi rakyat. "Dan yang penting uang rakyat itu betul-betul kita gunakan dengan sebaik-baiknya," ujarnya.

Untuk itu, peran Komisi Pemberantasan Korupsi dan Badan Pemeriksa Keuangan diperlukan untuk mengawal keselamatan APBN sampai di tangan yang berhak.
Sumber:
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/363297-sby-minta-dpr---kemenkeu-tak-mudah-bintangi-anggaran